BAB V
PEMBAHASAN HASIL SURVEI
Karakteristik remaja yang diteliti dilihat dari sisi usia sebagian besar berada dalam kelompok usia 16-18 tahun 54,81% (148 orang), kelompok usia ≤15 tahun sebesar 20,74% (56 orang), kelompok usia 19-21 tahun sebesar 15,56% (42 orang), dan kelompok usia 22-24 tahun sebesar 8,89% (24 orang). Dilihat berdasarkan jenis kelamin maka proporsi perempuan yang menjadi subjek penelitian sedikit lebih besar dari proporsi laki-laki masing-masing 51,48% (139 orang)dan 48,52% (131 orang).
Dilihat dari latar pendidikan, sebagian besar remaja yang diteliti 60,37% sedang duduk di bangku SMA atau sederajat (163 orang), menyusul sebesar 17,78% sedang duduk di bangku kuliah (48 orang), dan sebagian kecilnya lagi 13,33% sedang duduk di bangku SMP atau sederajat (36 orang). Selain responden yang masih sedang menempuh pendidikan formal juga terdapat sebesar 8,52% sudah tidak sekolah lagi yang terdiri dari 4,81% tamat SMP atau sederajat (13 orang), 2,22% tamat SD atau sederajat (6 orang), dan 1.48% tamat SMA atau sederajat (4 orang).
Sebagian besar responden atau 185 orang (68,52%) tinggal dengan orang tua, hanya 45 orang (14,81%) dari mereka yang tinggal sendiri/kos, dan hanya 40 orang (14,81%) ikut dengan keluarga. Sementara dilihat dari identitas/orientasi seksual responden, heterosek sebanyak 98,89% (267 orang), sebagian kecil lainnya mengaku homoseksual 0,37% (1 orang) dan biseksual 0,74% (2 orang). Mereka yang memiliki orientasi/identitas homoseksual dan beseksual semuanya merupakan responden di Palangka Raya, sedangkan di Kotawaringin Timur semuanya heteroseksual.
Berdasarkan karakteristik responden dilihat dari latar pendidikan seperti diuraikan di atas, maka variabel tingkat pendidikan responden bisa dikategorikan dalam 3 kategori yakni tingkat “pendidikan rendah” sebanyak 55 orang (20,37%), tingkat “pendidikan sedang” 167 orang (61,85%), dan tingkat “pendidikan tinggi” 48 orang (17,77%).
Dilihat dari sebaran nilai pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi dan seksual termasuk HIV-AIDS di dua lokasi survey, maka sebagian besar berada pada kategori “pengetahuan sedang” sebesar 85% (230 orang), sementara mereka yang memiliki tingkat “pengetahuan tinggi” hanya 7% (19 orang), demikian pula yang dikategorikan “pengetahuan rendah” hanya sebesar 8% (21 orang). Pada dasarnya pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi dan seksual secara umum cukup mamadai, namun beberapa indikator pengetahuan khususnya berkenaan dengan mitos dan pengetahuan HIV-AIDS masih sangat rendah, sehingga ikut berkontribusi terhadap tingkat pengetahuan remaja sebagian besar masih berada pada tingkatan “sedang”. Indikator pengetahuan yang masih sangat rendah terkonsentrasi pada pengetahuan HIV-AIDS, di mana sebagian besar remaja ternyata masih belum bisa membedakan istilah HIV dan AIDS. Sebagian besar remaja juga belum memahami cara penularan HIV dan cara pencegahannya.
Tingkat pendidikan ternyata ikut memberi kontribusi terhadap belum maksimalnya tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan seksual termasuk IMS dan HIV-AIDS. Dari hasil survei ternyata tingkat pengetahuan responden berbanding lurus dengan tingkat pengetahuan tentang kespro/deksual. Terbukti bahwa tingkat pengetahuan kespro/seksual yang berada pada level “tinggi” didominasi oleh responden dengan latar pendidikan tinggi (19%), sedangkan mereka dengan latar pendidikan sedang hanya 11%, dan mereka dengan latar pendidikan rendah hanya 4%. Berbeda dengan level pengetahuan kespro/seksual pada kategori “sedang”, ternyata sebagian besar didominasi oleh mereka dengan latar pendidikan level sedang (85%), kemudian diikuti level pendidikan rendah (83%), dan terendah level pendidikan tinggi (81%). Berlawanan dengan pengetahuan kespro/seksual pada level “tinggi”, maka untuk pengetahuan responden yang berada pada level “rendah” didominasi oleh responden dengan level pendidikan rendah sebesar 13%, menyusul level pendidikan sedang sebesar 4% dan responden pada level pendidikan tinggi tidak ada (0%).
Kondisi pengetahuan remaja yang sebagian besar berada pada tingkatan sedang, juga diikuti kondisi sikap remaja terhadap kesehatan reproduksi dan seksual termasuk IMS dan HIV-AIDS yang ternyata juga masih terkonsentrasi pada kategori sedang yakni sebesar 61% (164 orang), menyusul kategori sikap rendah sebesar 34% (92 orang), dan kategori sikap tinggi hanya 5% (14 orang). Beberapa indikator sikap yang masih tergolong dalam variabel sikap rendah ikut menyumbang belum tingginya sikap responden terutama sikap “stigma” dan “diskriminasi” terhadap orang dengan HIV-AIDS (Odha) yang masih sangat kental pada remaja. Cukup banyak remaja yang meyakini bahwa orang terinfeksi IMS dan HIV karena kutukan Tuhan akibat perbuatan yang tidak benar atau perbuatan penuh dosa. Begitu pula dengan sikap diskriminasi terhadap Odha di kalangan remaja ternyata juga masih tinggi, di mana sebagian besar remaja masih merasa takut bergaul dan berdekatan dengan Odha, bahkan merasa malu kalau ada keluarga yang terinfeksi HIV sehingga muncul sikap dan perilaku menghindar dan mengucilkan terhadap Odha. Kondisi sikap seperti ini sebebanarnya akibat dari masih rendahnya pengetahuan meraka tentang kesehatan reproduksi/seksual termasuh IMS dan HIV-AIDS.
Variabel perilaku seksual remaja juga digolongkan dalam tiga sub variabel yakni perilaku seksual berisiko rendah, perilaku seksual berisiko sedang, dan perilaku seksual berisiko tinggi. Hasil survey menunjukkan bahwa hanya 30,37% (82 orang) remaja yang berperilaku seksual “tidak berisiko/berisiko rendah”. Termasuk dalam kelompok ini adalah remaja yang belum pernah berpacaran walaupun hanya segelintir orang, dan remaja yang mengaku sudah pernah berpacaran namun pergaulan/perilaku mereka dalam berpacaran masih tergolong biasa atau dapat dikatakan dalam koridor aman seperti jalan-jalan bersama, berpegangan tangan, duduk santai bersama, atau maksimal hanya cium pipi/kening pacar. Sementara perilaku seksual remaja tergolong “berisiko sedang” sedikit lebih tinggi yakni sebesar 38,15% (103 orang). Termasuk dalam kelompok ini adalah remaja yang mempunyai perilaku dalam berpacaran sudah mulai menghawatirkan seperti cium bibir (istilah remaja cium basah) dan berpelukan mesra dengan pacar. Perilaku seksual remaja yang paling menghawatirkan atau tergolong perilaku seksual “berisiko tinggi” ternyata sedikit lebih tinggi dari perilaku seksual yang tergolong berisiko rendah yakni sebesar 31,48% (85 orang). Remaja yang tergolong berperilaku seksual berisiko tinggi dengan indikasi mulai dari aktivitas meraba bagian tubuh sensitive pacar, melakukan petting (menggesekkan alat kelamin kepada pasangan), hingga melakukan hubungan seksual dengan pacar (intercourse). Kecenderungan tingkat risiko perilaku seksual para remaja seperti diuraikan di atas tidak jauh berbeda pada dua lokasi penelitian baik di Palangka Raya maupun Kotawaringin Timur.
Kondisi perilaku seksual di dua daerah ini sudah mengindikasikan lampu kuning bagi kita sehingga sangat perlu para remaja diberikan secara dini informasi tentang kesehatan reproduksi dan seksual yang benar dan bertanggung jawab. Dengan demikian diharapkan tidak ada lagi mitos tentang kesehatan reproduksi dan seksual yang ikut memberi kontribusi terhadap perilaku seksual berisiko tinggi, di samping itu juga mereka memahami dengan baik seluk beluk organ reproduksi, proses terjadinya kehamilan, risiko kehamilan tidak dinginkan yang berujung pada aborsi tidak aman (unsafeabortion) dan paling mengerikan adalah terinfeksi IMS dan HIV-AIDS. Jika remaja sudah memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang kesehatan reproduksi dan seksual diharapkan sikap dan perilaku mereka terhadap kesehatan reproduski dan seksual juga bagus dan perilaku seksual remaja lebih bertanggungjawab. Para remaja akan membuat keputusan sendiri yang terbaik karena mereka sudah mengetahui risiko-risiko yang akan muncul jika mereka melakukan hal-hal berisiko dalam perilaku seksual.
Pengaruh variabel pendidikan, pengetahuan, dan sikap secara bersama-sama terhadap perilaku seksual remaja sebesar 2,9%. Ini dapat dimaknai bahwa bahwa Perilaku seksual sebanarnya tidak dipengaruhi secara signifikan oleh tingkat pendidikan, pengetahuan yang dimiliki, dan sikap yang ada. Sementara hubungan variabel pendidikan, pengetahuan, dan sikap secara sendiri-sendiri dengan perilaku seksual remaja dapat dilihat sebagai berikut:
· Uji korelasi variabel pendidikan dengan perilaku seksual remaja sebesar 2,476, t tabel sebesar 1,960. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa variabel pendidikan memiliki hubungan secara linier dengan perilaku seksual remaja.
· Uji korelasi variabel pengetahuan dengan perilaku seksual remaja sebesar 0,283, t tabel sebesar 1,960. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa variabel pengetahuan tidak memiliki hubungan linier dengan perilaku seksual remaja.
· Uji korelasi variabel sikap dengan perilaku seksual remaja sebesar 0,360, t tabel sebesar 1,960. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa variabel sikap tidak memiliki hubungan secara linier dengan perilaku seksual remaja.
· Besarnya pengaruh variabel pendidikan terhadap perilaku seksual remaja dapat dilihat pada koefisien Beta yaitu sebesar 0,194, atau jika dipersentasekan sebesar 1,94%. Pengaruh sebesar ini tidak signifikan karena nilai signifikansinya sebesar 0,14 lebih besar dari 0,05.
· Besarnya pengaruh variabel pengetahuan terhadap perilaku seksual remaja dapat dilihat pada koefisien Beta yaitu sebesar 0,064, atau jika dipersentasekan sebesar 0,64%. Pengaruh sebesar ini tidak signifikan, karena nilai signifikansinya sebesar 0,76 lebih besar dari 0,05.
· Besarnya pengaruh variabel sikap terhadap perilaku seksual remaja dapat dilihat pada koefisien Beta yaitu sebesar 0,069, atau jika dipersentasekan sebesar 0,69%. Pengaruh sebesar ini tidak signifikan, karena nilai signifikansinya sebesar 0,63 lebih besar dari 0,05.
Dalam hubungannya dengan proteksi diri, hasil analisis menunjukkan sebagaiberikut:
· Variabel pendidikan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap upaya proteksi diri terhadap IMS dan HIV-AIDS dalam melakukan hubungan seks. Ini ditunjukkan besaran hasil analisis sebesar 2,202, t tabel 2,000 dan signifikansi di bawah 0,05. Ini dapat dimaknai bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin besar pula kesadaran diri untuk melakukan proteksi dalam melakukan hubungan seks. Proteksi ini diartikan dalam bentuk penggunaan kondom, memeriksakan diri terhadap kecurigaan gejala awal IMS dan HIV.
· Sementara pengetahuan dan sikap tidak memiliki korelasi sama sekali dengan upya proteksi diri dalam melakukan hubungan seks. Ini ditunjukkan hasil analisis uji t -0,225 dan -0,021 lebih kecil dari t tabel 2,000, dan signifikansi di atas 0,05 yakni masing-masing 0,823 dan 0,983.
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
* Tingkat pengetahuan remaja tentang Kespro/Seksual termasuk IMS & HIV-AIDS sebagian besar berada pada level “sedang” (85%), sedangkan yang berada pada level “tinggi” (7%) dan level “rendah” (8%).
* Beberapa penyebab belum maksimalnya tingkat pengetahuan remaja tentang Kespro/Seksual termasuk IMS & HIV-AIDS tersebut antara lain dipengaruhi oleh: (1) tingkat pendidikan remaja, (2) beberapa indikator pengetahuan masih rancu di kalangan remaja khususnya tentang “mitos” kespro/seksual, dan minimnya pengetahuan tentang HIV-AIDS.
* Rendahnya pengetahuan remaja tentang kespro/seksual termasuk IMS dan HIV-AIDS berakibat pada sikap yang keliru terhadap kespro/seksual khususnya menyangkut HIV-AIDS yang memunculkan masih kentalnya “stigma” dan diskriminasi terhadap Odha di kalangan remaja.
* Karena itu hasil survei menunjukkan sikap remaja tentang kespro/seksual termasuk IMS & HIV-AIDS sebagian besar berada pada level “sedang” (61%), menyusul level “rendah” (34%) dan level “tinggi” (5%).
* Perilaku berisiko seksual remaja ternyata hanya sedikit pengaruhnya dari tingkat pendidikan remaja, namun lebih banyak ditentukan oleh faktor tingkat pengetahuan remaja tentang kesepro/seksual termasuk IMS dan HIV-AIDS.
* Terbukti hanya sedikit remaja dengan tingkat pengetahuan pada level “tinggi” melakukan hubungan seks pra-nikah, sementara tingkat pengetahuan pada level “sedang” justru mendominasi para remaja sebagai seksual aktif.
* Demikian pula dengan sikap, ternyata cukup berpengaruh terhadap perilaku seksual berisiko pada remaja. Sangat kecil proporsi remaja dengan sikap pada level “tinggi” terhadap kespro/seksual termasuk IMS & HIV-AIDS yang telah melakukan hubungan seksual pra-nikah, namun mereka justru lebih banyak berada pada level sikap “sedang”.
* Perilaku seksual sebanarnya tidak dipengaruhi secara signifikan oleh tingkat pendidikan, pengetahuan yang dimiliki, dan sikap yang ada. Artinya bahwa perilaku seksual remaja tidak tergantung pada tingkat pendidikan mereka, pengetahuan kesehatan reproduksi dan seksual mereka, maupun sikap terhadap kesehatan reproduksi dan seksual mereka. Jadi dengan kata lain ada variabel lain yang harus dicari yang berpengaruh pada perilaku seksual remaja.
* Namun demikian bahwa variabel pendidikan memiliki hubungan secara linier dengan perilaku seksual remaja.
* Pendidikan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap upaya proteksi diri dari IMS dan HIV-AIDS dalam melakukan hubungan seks. Bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin besar pula kesadaran diri untuk melakukan proteksi dalam melakukan hubungan seks. Proteksi ini diartikan dalam bentuk penggunaan kondom, memeriksakan diri terhadap kecurigaan gejala awal IMS dan HIV.
* Sedangkan pengetahuan dan sikap tidak memiliki korelasi yang berarti dalam upaya proteksi diri terhadap IMS dan HIV dalam melakukan hubungan seks.
B. Rekomendasi
* Perlu meningkatkan kerjasama dan koordinasi antar sektor terkait, LSM, dan lebaga lainnya dalam upaya meningkatkan pengetahuan remaja tentang kespro/seksual khususnya IMS dan HIV-AIDS karena pada tahun 2015 sesuai tujuan MDGs paling tidak 90% remaja sudah memiliki “pengetahuan komprehensif HIV-AIDS”.
* Pemberian pengetahuan HIV-AIDS ke depan lebih ditekankan pada masalah “fakta” untuk menangkal “mitos” kespro/seksual dan upaya menghapus “stigma” serta “diskriminasi” terhadap ODHA.
* Lembaga pendidikan terutama sekolah formal paling strategis dalam upaya pemberian informasi tentang muatan kespro/seksual termasuk IMS dan HIV-AIDS dengan “pendekatan integrated” dari beberpa mata pelajaran melalui guru-guru yang sudah dilatih, dan melalui kelompok remaja peduli masalah Kespro/Seksual termasuk IMS dan HIV-AIDS seperti PIK-R, PIK-M (BKKBN), PKPR (Kemenkes), Youth Center (PKBI), dan kelompok remaja lainnya.
* Perlu dilakukan survei lebih dalam untuk mengungkap faktor-faktor yang mempengaruhi lebih dominan terhadap remaja yang seksual aktif dalam upaya mencari solusi yang tepat.
* Gencarnya arus globalisasi yang ditandai mulusnya komunikasi dan infomasi serta interaksi dan mobilitas manusia nyaris tanpa batas juga berdampak pada banyaknya bermunculan tempat-tempat hiburan yang sangat berisiko bagi remaja, sementara masyarakat sudah sangat permisive. Karena itu pemberian pengetahuan tentang Kespro/Seksual termasuk IMS dan HIV-AIDS pada remaja merupakan salah satu upaya proteksi agar remaja kelak memiliki perilaku seksual yang bertanggung jawab.
Adioetomo dan Sulistinah, tth, Need Assessment for Adolescent Reproductive Health Program, Research Report, Demographic Institute Faculty of Economic University of Indonesia.
Badan Pusat Statistik Kalimantan Tengah, 2011, Sensus Penduduk Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2010, Palangkaraya: BPS Kalteng.
BBC World Service dan IPPF, (2000), Peduli Sex, London.
BKKBN, (2004), Handout Presentasi Fasilitasi untuk Topik Seksualitas, Buku IIa, Jakarta.
Departemen Kesehatan RI, (2009), Pelatihan Intervensi Perubahan Perilaku (IPP) - Paket 1, Jakarta
Dian Husada, (on line), Konsep Perilaku Manusia, http://dianhusadanuruleka.blogspot.com/ p/konsep-perilaku-manusia.html
Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, 2013, Data HIV-AIDS Propinsi Kalimantan Tengah s.d November 2013.
Djajadilaga, dkk, 2007, Langkah-Langkah Praktis Paket Layanan Kesehatan Reproduksi Esensial di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar, Edisi kedua, Pusat Kespro FKUI, Jakarta, Ford Foundation.
DKT Indonesia, 2005, Survei Perilaku Seksual Remaja di Empat Kota Besar, Jakarta: Dkt Indonesia.
Fourseasonnews, (2012), (online), Pengertian Remaja Menurut WHO, (http://fourseasonnews.
blogspot.com/2012/05/pengertian-remaja-menurut-who.html), diunduh 18 Mei 2014.
Graeme Hugo, (2001), Mobilitas Penduduk dan HIV/AIDS di Indonesia, ILO, UNDP, UNAIDS, AusAID
Houseoflunaphi, (online), Perilaku Seksual, (http://houseoflunaphi.blogspot.com/search/label/
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, 2009, Angka Estimasi Populasi Kunci di Indonesia tahun 2009.
Kompas, 2012, (online), Penggunaan Kondom pada Populasi Kunci Belum Capai, (http:// health.kompas.com/read/2012/12/06/09470970/), diunduh 14 Maret 2013.
Laurike Moeliono dkk, (2004), Multi Media Materi KRR, Buku-II Fasilitasi KRR, BKKBN, Jakarta.
Lentera Sahaja PKBI DIY, Dorongan Seksual, Yogyakarta, tth.
Murti, I. R. (2008). Hubungan Antara Frekuensi Paparan Pornografi Melalui Media Massa Dengan Tingkat Perilaku Seksual Pada Siswa Smu Muhammadiyah 3 Tahun 2008. Depok: FKM UI.
Nevianyagastha, (2011), (online), Batasan Remaja Menurut WHO, (http://nevianyagastha.blog
spot.com/2011/07/batasan-remaja-menurut-who.html), diunduh 18 Mei 2014.
Notoatmojo. (2003). Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineta Cipta.
Pelatihan IPP Paket 1-Modul BCI, (2009), Perilaku Berisiko dan Perilaku Aman, Departemen Kesehatan RI,
Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, (2010), Penelitian Perilaku Seksual Remaja di 19 Provinsi, Jakarta: PKBI
Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, (2007), Kesehatan Reproduksi untuk Remaja Islam, Jakarta, PKBI.
Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia dan Pemerintah Jepang, (2004), Modul Kesehatan Reproduksi Remaja untuk Orangtua, Remaja dan Guru SLTP/SMU, Jakarta.
Psikologi Unnes, (2008), (online), Pengertian Sikap dan Perilaku, (http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/08/pengertian-sikap-dan-perilaku.html)
Sarwono, S. W. (2010). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.
Slideshare.net,(online), Sikap dan Perilaku, (http://www.slideshare.net/atone_lotus/sikap-dan-perilaku-psikologi-sosial), diunduh 18 Mei 2014.
Sugiyono, 2009, Metode Penelitian Pendidikan-Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Wikipedia, (online), Perilaku Manusia, (http://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_manusia), diunduh 19 Mei 2014
Yantigobel, Perilaku Seksual Remaja dan Kesehatan Reproduksi, 2010, (online), (http://yanti gobel.word press.com /tag/ perilaku-seksual-remaja/), diunduh 2 Mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar